BESTFRIEND STORIES
Hari yang
cerah, aku bangun dari tidurku. Kubuka jendela kamarku. Terik mentari pagi
mulai muncul dari ufuk timur sana.
“Oaahm....”
Aku
merentangkan kedua tanganku. Rasa-rasanya aku ingin segera keluar dari rumah
& menyambut pagi yang indah itu. Aku mulai berjalan menuju kamar kecil yang
berada tak jauh dari kamar tidurku. Selesai mandi, aku bergegas pergi ke ruang
makan karena ayah & ibuku sudah menungguku.
“Bukannya
kamu ada janji dengan temanmu, hari ini?” tanya ibu.
“Iya, bu”
jawabku singkat.
“Memangnya
apa yang kau janjikan dengan temanmu itu?” tanya ibuku sekali lagi.
“Ah!
Bukan janji yang penting kok” ungkapku.
“Sebenarnya
siapa yang akan kau temui?” ganti ayahku yang bertanya.
“Namanya
Dila, yah”
“Oh....
ayah lihat kalian semakin akrab saja”
“Ya.. begitulah.
Apalagi kita teman sekelas”
“Benarkah?”
“Sudah,
sudah. Ngobrolnya nanti lagi. Sekarang ayo kita sarapan dulu” timpal ibuku.
Selesai
sarapan, aku berpamitan pada orang tuaku & segera pergi untuk menemui Dila,
sahabat baruku yang baru pindah dari Bandung.
“Pergi
dulu yah, bu. Assalamualaikum” ucapku.
“Ya,
waalaikumsalam” jawab kedua orangtuaku.
Perjalananku
menuju taman ditemani mentari yang mulai beranjak dari peristirahatannya.
Dengan headset ditelingaku, kudengarkan lantunan musik K-Pop yang menjadi
idolaku.
“Huft,
pasti Dila dah lama nunggu, nih”
Akupun
melihat sekeliling taman, mataku liar menatap ke segala arah untuk mencari
tempat Dila berada. Dan ternyata, Dila sudah menunggu disalah satu kursi yang tersedia ditaman itu. Akupun
menghampirinya.
“Hi.
Pasti kamu dah nunggu lama. Maaf ya”
“Ah,
nggak kok. Aku juga baru aja sampai”
“Oh,
syukurlah. Kalo gitu aku nggak ngebuat sahabatku ini nunggu lama” godaku
membuat senyum tersungging di pipinya.
“Jangan
gitulah. Walaupun lama juga pasti aku tunggu. Hehe” jawabnya.
“Terus
gimana rencana kita?” kataku memulai pembicaraan.
“Rencana
apa, sih?” tanya Dila bingung.
“Oh, iya.
Kan aku belum kasih tau kamu.”
“Gimana
sih. Emangnya obatmu belum diminum, ya?” canda Dila.
“Obat?
Obat apaan? Perasaan aku nggak punya penyakit serius”
“Ih,
gimana sih. Diajak bercanda malah bingung sendiri”
“Yaudahlah,
terserah kamu”
Kamipun
berbincang-bincang disebuah kursi yang tadi digunakan Dila untuk menungguku.
Kursi itu berada di tengah taman & menghadap kearah barat & didepan
kami terdapat sebuah kolam ikan yang kecil dengan air yang jernih.
“Jadi,
rencanaku adalah.....” bisikku.
“Oh....
intinya kita mau PDKT sama mereka?”
“Ya...
begitulah”
Setelah
lama membicarakan rencana itu, akupun harus segera pulang matahari sudah hampir
sampai di atas kepala. Tandanya hari sudah mulai siang.
“Wah.,
dah siang nih. Aku pulang dulu, ya”pintaku
“Yaudah,
aku juga mau pulang” jawab Dila.
“Ok aku
tunggu kamu besok disekolah, ya”
“Iya,
bye”
“Bye”
balasku.
Kamipun
pulang menuju rumah masing-masing.
@_@
Satu hari
telah berlalu. Paginya, aku beranjak dari tidurku & segera mempersiapkan
diri untuk berangkat ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB.
Sesampainya
di sekolah, aku segera mencari Dila untuk menyelesaikan rencana yang sudah
direncanakan. Karena belum juga bertemu dangan Dila, akupun duduk bersandar di
bawah pohon yang rindang. Dan seketika terdengar dari belakang, seseorang
memanggil namaku.
“Rachel!!!”
serunya.
“Pasti
Dila” tebakku sembari berdiri & menoleh kebelakang.
“Ngapain
kamu disini, Chel?” tanyanya.
“Kamu ini
ngrepotin aku aja tahu nggak. Aku capek-capek nyari kamu kesana kemari.
Sekarang kamu baru muncul.” Ujarku kesal.
“Oh..
ngapain repot-repot, tinggal nelfon/nge-BM aku, gampangkan?”
“Oh iya,
ya. Kenapa nggak dari tadi kamu kasih tahu aku?”
“Kok
nyalahin aku? Kan bisa tanya ke-GOOGLE” candanya.
“Udahlah
gak usah dibahas lagi. Mending kita bahas rencana kita yang kemarin” leraiku.
“Oh iya,
ya. Aku udah nggak sabar buat kenalan sama dia”
“Yaudah,
jadi....”
TEEEEETTT!!!!!!!!!!..........
Baru saja
kami mau memulai pembicaraan. Tetapi tiba-tiba saja bel masuk berbunyi.
“Ah,
kenapa sih. Belnya nggak mau nungguin kita selesai bicara dulu?” gerutu Dila.
“Yaudahlah,
biarin. Kita masuk kelas dulu aja. Nanti waktu istirahat kita lanjutin lagi,
OK?” ujarku.
“Yaudah,
ayo!!”
Disela-sela
pelajaran yang tengah berlangsung, terlihat guru fisika memberi penjelasan pada
murid-muridnya. Tiba-tiba saja, Dila yang duduk dibelakangku memanggilkudengan
berbisik.
“Chel,
Rachel!!” bisik Dila.
“Apaan
sih?” jawabku sembari menoleh kebelakang.
“Aku
minta nomor telephonnya Radit donk”
“Ih,
emang aku punya?”
“Ya, kan
kamu sepupunya. Masa nggak punya”
“Nanti
aja ah”
“Sekarang
aja donk Chel. Pliss” pinta Dila.
“Tau ah”
acuhku sembari memalingkan mukaku dari Dila.
“Chel”
bisik Dila lagi.
Karena
sudah nggak tahan dengan permintaan Dila, akupun berdiri & meminta ijin
pada guruku untuk ke toilet sebentar. Setelah mendapat ijin, akupun beranjak
meninggalkan Dila yang tampak muram
Setelah
beberapa menitdi toilet, aku kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran yang
sedikit terganggu tadi. Sesampainya di kelas, kulihat muka Dila berseri-seri
kembali. Tanpa kuhiraukan, akupun kembali duduk di kursiku.
“Chel,
Rachel!” bisik Dila lagi.
“Chel!”
panggilnya lagi dengan nada tak sabaran. Akupun menoleh.
“Bisa
diam nggak sih?” bentakku.
Aku
berteriak secara spontan karena aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Sehingga,
semua murid di kelasku menoleh kearahku. Akupun baru sadar akan kelakuanku.
Jadi, secara refleks kedua tanganku
membungkam mulutku sendiri.
“Maaf,
bu” ujarku.
“Rachel,
karena kamu sudah mengganggu pelajaran. Sekarang kamu keluar kelas & jangan
masuk sampai bel berbunyi. Mengerti!” bentak guruku.
“Tapi bu.
Ini gara-gara Dila.” Hindarku sembari berdiri & menunjuk ke arah Dila.
Dilapun ikut berdiri.
“Lho kok
aku, sih?”
“Sudah,
diam! Kalian berdua, keluar sekarang juga!” bentak guruku sekali lagi.
Akupun
bertatapan dengan Dila selama beberapa menit. Namun setelah itu, kamipun keluar
dari kelas tanpa menunggu perintah dari guru yang kedua kalinya.
Diluar
kelas, aku bingung mau melakukan apa?. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke
taman sekolah & menghirup udara segar disana. Sesampainya di taman, aku
duduk di kursi yang berada di bawah pohon yang rindang. Namun tiba-tiba Dila
muncul dari balik pohon.
“Chel”
panggilnya pelan. Aku tidak menghiraukan pangilannya karena aku masih kesal
dengannya.
“Rachel,
maafin aku” ucapnya.
Sama
seperti tadi, aku hanya memalingkan muka darinya. Tapi setelah lama, aku pergi
meninggalkan Dila & menuju ke depan kelas.
Walaupun
tidak boleh masuk kelas, tapi aku masih bisa mengikuti pelajaran dengan
mendengarkan penjelasan dari guru fisika dari luar. Berbeda dengan Dila yang
masih duduk di taman.
“Apa
Rachel marah sama aku, ya?” tanya Dila pada dirinya sendiri.
“Tapi
emang wajar kalo diamarah sama aku. Kan, aku yang buat dia dikeluarin dari
kelas” sesalnya.
Akhirnya,
Dilapun berdiri & beranjak dari taman untuk pergi ke toilet.
@_@
TEET!!!!.......TEET!!!!......
Bel pulang
berbunyi. Kurapikan buku-buku pelajaran yang tadi kukeluarkan & bersiap
untuk pulang. Kulirik meja Dila. Namun, Dila sudah tidak ada dimejanya. Mungkin Dila udah pulang. Batinku.
Akhirnya,
akupun pulang kerumah dengan berjalan kaki sendirian tanpa Dila. Memang
biasanya kami selalu pulang bersama & dalam perjalanan itu, biasanya kami
selalu bercerita tentang segala hal yang besar maupun hal sekecil apapun. Tapi,
BRUUUUMMM.........
Terdengar
suara motor dari arah belakang. Akupun menoleh kebelakang.
“Haa!!!”
ucapku hampir berteriak. Karena yang mengendarai motor itu adalah Ricky.
“Aduh,
aku harus gimana, nih? Ih, kok jadi SALTING gini, sih?” motor itupun berhenti
didekatku.
“Hai”
sapa Ricky.
“Eh, ehm,
hai” jawabku gugup.
“Kamu
kenapa? kok jalan sendiri? Nggak sama Dila?” tanyanya bertubi-tubi.
“Ehm, aku
sama Dila nggak papa kok. Cuma ada masalah kecil” elakku.
“Oh...”
jawabnya singkat.
“Ehm...
daripada panas-panas, gimana kalo aku anter kamu sampai rumah?” tawarnya.
“Eh,
nganterin aku? Sampai rumah?”
“Iya, emangnya
kenapa?”
“Nggak
usahlah, ngerepotin kamu. Kan arah rumahku sama arah rumahmu beda” elakku.
“Nggak
papa. Lagian aku mau sekalian kerumah temenku”
“Tapi,
kamu mau ngapa ke rumah temenmu?”
“Ya, Cuma
main aja. Gimana? Mau nggak aku anter?” tawarnya lagi.
“Ya,
terserah kamu deh” jawabku malu-malu kucing.
“Yaudah,
ayo naik” suruhnya.
Akupun
naik ke punggung motor dengan malu-malu. Dan Ricky-pun segera menancap gas
melaju kedepan menuju rumahku.
“Akh....”
ucapku agak berteriak.
“Ada apa,
Chel?” tanya Ricky.
“Ehm,
enggak. Ehm, jangan ngebut, ya. Aku takut”
“Oh, kalo
gitu pegangan aku aja”
“Haaah??!!”
teriakku.
“Emangnya
kenapa? nggak mau?”
“Enggak
kok” akupun memeluk Ricky hanya sekedar untuk berpegangan.
DEG!!
DEG!! DEG!!
Begitulah
yang kurasakan. Jantungku serasa mau copot. Tapi sayangnya, tidak lama kemudian
kami sudah sampai dirumahku. Akupun segera melepaskan pelukanku & beranjak
turun dari motor milik Ricky.
“Ehm,
makasih” ucapku malu-malu.
“Iya.
Santai aja” jawabnya.
“Yaudah,
kalo gitu aku masuk dulu, ya”
“Iya,
silahkan. Aku juga mau langsung pergi aja, daaahhh.....”
“Daahhh.....”
jawabku membalas lambaian tangannya.
Setelah
Ricky pergi & hilang dari pandangan mataku. Akupun masuk kerumah sambil
mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum.
Yah, bu. Rachel pulang”
“Iya,
waalaikumsalam” jawab ibuku dari dalam.
Akupun
melepas sepatuku, dan meletakkannya dirak sepatu yang disediakan didekat pintu.
Kulihat, ayah & ibu sedang berbenah. Dan 2 koper besar terlihat sudah penuh
dengan barang-barang milik ayah, ibuku.
“Ada apa,
bu?” tanyaku sembari mendekati ibuku.
“Oh iya.
Sini-sini” kata ibuku seraya mengajakku duduk disofa ruang tengah.
“Ayahmu
ada tugas keluar kota, trus ibu juga ada acara di rumahnya temennya ibu yang
ada di Bali” tutur ibuku.
“Trus aku
gimana?” tanyaku.
“Ya,
sementara kamu dirumahnya Dila aja, ya. Kalo nggak ya, kamu tinggal dirumah
sendiri, masak sendiri, bangun sendiri, gimana?” tanya ibuku.
“Ehm...
yaudahlah, kerumahnya Dila aja” jawabku sembari berdiri & menuju kamarku.
Sesampainya
dikamar, kulepas tasku & kugantung di meja belajarku. Setelah itu, kubuka
buku diaryku. Kubaca sekilas & kututup lagi. Kurebahkan tubuhku dikasur.
Terbayang-bayang waktu yang kuhabiskan dengan Dila.
“Huft,
apa jadinya nanti, ya?” gumamku.
Akhirnya
aku terbawa ke dunia mimpi dengan berpakaian seragam.
@_@

No comments:
Post a Comment