Thursday, September 3, 2015



BESTFRIEND STORIES

Hari yang cerah, aku bangun dari tidurku. Kubuka jendela kamarku. Terik mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur sana.
“Oaahm....”
Aku merentangkan kedua tanganku. Rasa-rasanya aku ingin segera keluar dari rumah & menyambut pagi yang indah itu. Aku mulai berjalan menuju kamar kecil yang berada tak jauh dari kamar tidurku. Selesai mandi, aku bergegas pergi ke ruang makan karena ayah & ibuku sudah menungguku.
“Bukannya kamu ada janji dengan temanmu, hari ini?” tanya ibu.
“Iya, bu” jawabku singkat.
“Memangnya apa yang kau janjikan dengan temanmu itu?” tanya ibuku sekali lagi.
“Ah! Bukan janji yang penting kok” ungkapku.
“Sebenarnya siapa yang akan kau temui?” ganti ayahku yang bertanya.
“Namanya Dila, yah”
“Oh.... ayah lihat kalian semakin akrab saja”
“Ya.. begitulah. Apalagi kita teman sekelas”
“Benarkah?”
“Sudah, sudah. Ngobrolnya nanti lagi. Sekarang ayo kita sarapan dulu” timpal ibuku.
Selesai sarapan, aku berpamitan pada orang tuaku & segera pergi untuk menemui Dila, sahabat baruku yang baru pindah dari Bandung.
“Pergi dulu yah, bu. Assalamualaikum” ucapku.
“Ya, waalaikumsalam” jawab kedua orangtuaku.
Perjalananku menuju taman ditemani mentari yang mulai beranjak dari peristirahatannya. Dengan headset ditelingaku, kudengarkan lantunan musik K-Pop yang menjadi idolaku.
“Huft, pasti Dila dah lama nunggu, nih”
Akupun melihat sekeliling taman, mataku liar menatap ke segala arah untuk mencari tempat Dila berada. Dan ternyata, Dila sudah menunggu disalah satu  kursi yang tersedia ditaman itu. Akupun menghampirinya.
“Hi. Pasti kamu dah nunggu lama. Maaf ya”
“Ah, nggak kok. Aku juga baru aja sampai”
“Oh, syukurlah. Kalo gitu aku nggak ngebuat sahabatku ini nunggu lama” godaku membuat senyum tersungging di pipinya.
“Jangan gitulah. Walaupun lama juga pasti aku tunggu. Hehe” jawabnya.
“Terus gimana rencana kita?” kataku memulai pembicaraan.
“Rencana apa, sih?” tanya Dila bingung.
“Oh, iya. Kan aku belum kasih tau kamu.”
“Gimana sih. Emangnya obatmu belum diminum, ya?” canda Dila.
“Obat? Obat apaan? Perasaan aku nggak punya penyakit serius”
“Ih, gimana sih. Diajak bercanda malah bingung sendiri”
“Yaudahlah, terserah kamu”
Kamipun berbincang-bincang disebuah kursi yang tadi digunakan Dila untuk menungguku. Kursi itu berada di tengah taman & menghadap kearah barat & didepan kami terdapat sebuah kolam ikan yang kecil dengan air yang jernih.
“Jadi, rencanaku adalah.....” bisikku.
“Oh.... intinya kita mau PDKT sama mereka?”
“Ya... begitulah”
Setelah lama membicarakan rencana itu, akupun harus segera pulang matahari sudah hampir sampai di atas kepala. Tandanya hari sudah mulai siang.
“Wah., dah siang nih. Aku pulang dulu, ya”pintaku
“Yaudah, aku juga mau pulang” jawab Dila.
“Ok aku tunggu kamu besok disekolah, ya”
“Iya, bye”
“Bye” balasku.
Kamipun pulang menuju rumah masing-masing.

@_@

Satu hari telah berlalu. Paginya, aku beranjak dari tidurku & segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB.
Sesampainya di sekolah, aku segera mencari Dila untuk menyelesaikan rencana yang sudah direncanakan. Karena belum juga bertemu dangan Dila, akupun duduk bersandar di bawah pohon yang rindang. Dan seketika terdengar dari belakang, seseorang memanggil namaku.
“Rachel!!!” serunya.
“Pasti Dila” tebakku sembari berdiri & menoleh kebelakang.
“Ngapain kamu disini, Chel?” tanyanya.
“Kamu ini ngrepotin aku aja tahu nggak. Aku capek-capek nyari kamu kesana kemari. Sekarang kamu baru muncul.” Ujarku kesal.
“Oh.. ngapain repot-repot, tinggal nelfon/nge-BM aku, gampangkan?”
“Oh iya, ya. Kenapa nggak dari tadi kamu kasih tahu aku?”
“Kok nyalahin aku? Kan bisa tanya ke-GOOGLE” candanya.
“Udahlah gak usah dibahas lagi. Mending kita bahas rencana kita yang kemarin” leraiku.
“Oh iya, ya. Aku udah nggak sabar buat kenalan sama dia”
“Yaudah, jadi....”
TEEEEETTT!!!!!!!!!!..........
Baru saja kami mau memulai pembicaraan. Tetapi tiba-tiba saja bel masuk berbunyi.
“Ah, kenapa sih. Belnya nggak mau nungguin kita selesai bicara dulu?” gerutu Dila.
“Yaudahlah, biarin. Kita masuk kelas dulu aja. Nanti waktu istirahat kita lanjutin lagi, OK?” ujarku.
“Yaudah, ayo!!”
Disela-sela pelajaran yang tengah berlangsung, terlihat guru fisika memberi penjelasan pada murid-muridnya. Tiba-tiba saja, Dila yang duduk dibelakangku memanggilkudengan berbisik.
“Chel, Rachel!!” bisik Dila.
“Apaan sih?” jawabku sembari menoleh kebelakang.
“Aku minta nomor telephonnya Radit donk”
“Ih, emang aku punya?”
“Ya, kan kamu sepupunya. Masa nggak punya”
“Nanti aja ah”
“Sekarang aja donk Chel. Pliss” pinta Dila.
“Tau ah” acuhku sembari memalingkan mukaku dari Dila.
“Chel” bisik Dila lagi.
Karena sudah nggak tahan dengan permintaan Dila, akupun berdiri & meminta ijin pada guruku untuk ke toilet sebentar. Setelah mendapat ijin, akupun beranjak meninggalkan Dila yang tampak muram
Setelah beberapa menitdi toilet, aku kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran yang sedikit terganggu tadi. Sesampainya di kelas, kulihat muka Dila berseri-seri kembali. Tanpa kuhiraukan, akupun kembali duduk di kursiku.
“Chel, Rachel!” bisik Dila lagi.
“Chel!” panggilnya lagi dengan nada tak sabaran. Akupun menoleh.
“Bisa diam nggak sih?” bentakku.
Aku berteriak secara spontan karena aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Sehingga, semua murid di kelasku menoleh kearahku. Akupun baru sadar akan kelakuanku. Jadi, secara refleks kedua tanganku  membungkam mulutku sendiri.
“Maaf, bu” ujarku.
“Rachel, karena kamu sudah mengganggu pelajaran. Sekarang kamu keluar kelas & jangan masuk sampai bel berbunyi. Mengerti!” bentak guruku.
“Tapi bu. Ini gara-gara Dila.” Hindarku sembari berdiri & menunjuk ke arah Dila. Dilapun ikut berdiri.
“Lho kok aku, sih?”
“Sudah, diam! Kalian berdua, keluar sekarang juga!” bentak guruku sekali lagi.
Akupun bertatapan dengan Dila selama beberapa menit. Namun setelah itu, kamipun keluar dari kelas tanpa menunggu perintah dari guru yang kedua kalinya.
Diluar kelas, aku bingung mau melakukan apa?. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman sekolah & menghirup udara segar disana. Sesampainya di taman, aku duduk di kursi yang berada di bawah pohon yang rindang. Namun tiba-tiba Dila muncul dari balik pohon.
“Chel” panggilnya pelan. Aku tidak menghiraukan pangilannya karena aku masih kesal dengannya.
“Rachel, maafin aku” ucapnya.
Sama seperti tadi, aku hanya memalingkan muka darinya. Tapi setelah lama, aku pergi meninggalkan Dila & menuju ke depan kelas.
Walaupun tidak boleh masuk kelas, tapi aku masih bisa mengikuti pelajaran dengan mendengarkan penjelasan dari guru fisika dari luar. Berbeda dengan Dila yang masih duduk di taman.
“Apa Rachel marah sama aku, ya?” tanya Dila pada dirinya sendiri.
“Tapi emang wajar kalo diamarah sama aku. Kan, aku yang buat dia dikeluarin dari kelas” sesalnya.
Akhirnya, Dilapun berdiri & beranjak dari taman untuk pergi ke toilet.

@_@

TEET!!!!.......TEET!!!!......
Bel pulang berbunyi. Kurapikan buku-buku pelajaran yang tadi kukeluarkan & bersiap untuk pulang. Kulirik meja Dila. Namun, Dila sudah tidak ada dimejanya. Mungkin Dila udah pulang. Batinku.
Akhirnya, akupun pulang kerumah dengan berjalan kaki sendirian tanpa Dila. Memang biasanya kami selalu pulang bersama & dalam perjalanan itu, biasanya kami selalu bercerita tentang segala hal yang besar maupun hal sekecil apapun. Tapi,
BRUUUUMMM.........
Terdengar suara motor dari arah belakang. Akupun menoleh kebelakang.
“Haa!!!” ucapku hampir berteriak. Karena yang mengendarai motor itu adalah Ricky.
“Aduh, aku harus gimana, nih? Ih, kok jadi SALTING gini, sih?” motor itupun berhenti didekatku.
“Hai” sapa Ricky.
“Eh, ehm, hai” jawabku gugup.
“Kamu kenapa? kok jalan sendiri? Nggak sama Dila?” tanyanya bertubi-tubi.
“Ehm, aku sama Dila nggak papa kok. Cuma ada masalah kecil” elakku.
“Oh...” jawabnya singkat.
“Ehm... daripada panas-panas, gimana kalo aku anter kamu sampai rumah?” tawarnya.
“Eh, nganterin aku? Sampai rumah?”
“Iya, emangnya kenapa?”
“Nggak usahlah, ngerepotin kamu. Kan arah rumahku sama arah rumahmu beda” elakku.
“Nggak papa. Lagian aku mau sekalian kerumah temenku”
“Tapi, kamu mau ngapa ke rumah temenmu?”
“Ya, Cuma main aja. Gimana? Mau nggak aku anter?” tawarnya lagi.
“Ya, terserah kamu deh” jawabku malu-malu kucing.
“Yaudah, ayo naik” suruhnya.
Akupun naik ke punggung motor dengan malu-malu. Dan Ricky-pun segera menancap gas melaju kedepan menuju rumahku.
“Akh....” ucapku agak berteriak.
“Ada apa, Chel?” tanya Ricky.
“Ehm, enggak. Ehm, jangan ngebut, ya. Aku takut”
“Oh, kalo gitu pegangan aku aja”
“Haaah??!!” teriakku.
“Emangnya kenapa? nggak mau?”
“Enggak kok” akupun memeluk Ricky hanya sekedar untuk berpegangan.
DEG!! DEG!! DEG!!
Begitulah yang kurasakan. Jantungku serasa mau copot. Tapi sayangnya, tidak lama kemudian kami sudah sampai dirumahku. Akupun segera melepaskan pelukanku & beranjak turun dari motor milik Ricky.
“Ehm, makasih” ucapku malu-malu.
“Iya. Santai aja” jawabnya.
“Yaudah, kalo gitu aku masuk dulu, ya”
“Iya, silahkan. Aku juga mau langsung pergi aja, daaahhh.....”
“Daahhh.....” jawabku membalas lambaian tangannya.
Setelah Ricky pergi & hilang dari pandangan mataku. Akupun masuk kerumah sambil mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum. Yah, bu. Rachel pulang”
“Iya, waalaikumsalam” jawab ibuku dari dalam.
Akupun melepas sepatuku, dan meletakkannya dirak sepatu yang disediakan didekat pintu. Kulihat, ayah & ibu sedang berbenah. Dan 2 koper besar terlihat sudah penuh dengan barang-barang milik ayah, ibuku.
“Ada apa, bu?” tanyaku sembari mendekati ibuku.
“Oh iya. Sini-sini” kata ibuku seraya mengajakku duduk disofa ruang tengah.
“Ayahmu ada tugas keluar kota, trus ibu juga ada acara di rumahnya temennya ibu yang ada di Bali” tutur ibuku.
“Trus aku gimana?” tanyaku.
“Ya, sementara kamu dirumahnya Dila aja, ya. Kalo nggak ya, kamu tinggal dirumah sendiri, masak sendiri, bangun sendiri, gimana?” tanya ibuku.
“Ehm... yaudahlah, kerumahnya Dila aja” jawabku sembari berdiri & menuju kamarku.
Sesampainya dikamar, kulepas tasku & kugantung di meja belajarku. Setelah itu, kubuka buku diaryku. Kubaca sekilas & kututup lagi. Kurebahkan tubuhku dikasur. Terbayang-bayang waktu yang kuhabiskan dengan Dila.
“Huft, apa jadinya nanti, ya?” gumamku.
Akhirnya aku terbawa ke dunia mimpi dengan berpakaian seragam.

@_@

No comments:

Post a Comment